25 Okt 2013

Aku Bukan Menantu Pilihan

Gambar  Om google
Aku Bukan Menantu Pilihan


Ini cerita bukan sekedar cerita dalam sinetron. Kenyataannya cerita ini ada dalam dunia nyata. 
"Aku bukan menantu pilihan" judul ini rasanya pantas dengan kisah yang akan aku tuangkan disini.

Semua berawal ketika mas Hendry (sebut saja begitu) melamarku, kami saling mencintai karena Allah dan mas Hendry meyakinkan aku bahwa aku adalah pelabuhan hatinya dan dipilihkan Allah untuk menjadi isrinya.

Hari itu....
"Tok...tok...tok..."
Tiba-tiba pintu kamar ada yang mengetuk. "Pasti mas Hendry" pikirku. Aku segera membukakan pintu.
"Eh...mama..."
Ternyata Ibu mertuaku yang datang....
"Vina...jangan harap kamu akan bahagia di rumah ini, kamu menikah dengan anakku hanya ingin mengangkat derajat hidup kamu saja bukan?" Dengan wajah geram ibu mertuaku menyampaikan kata-katanya.
"Mama...aku dan Mas Hendry saling mencintai." hampir saja mata berkaca-kaca. Karena aku tidak sanggup mendengar kata-kata mama....
"Hendry, anakku tidak pernah mencintai kamu. Ingat Vina...seharusnya bukan kamu wanita yang dinikahi hendry menjadi istrinya, Shalsa lebih pantas menjadi istrinya, dari pada kamu dari keluarga tidak jelas Kamu harus ingat itu...!!." lanjut mama...
Aku hanya mampu diam, walau airmataku hampir meleleh.
Tiba...tiba...
"Mama..." Mas Hendry sudah berada dibelakang mama...
Air muka kebencian mama terhadapku, tiba-tiba berubah drastis.
"Iya sayang...mama sedang mengucapkan selamat kepada vina." dengan wajah ceria mama menjelaskan kenapa ada di kamarku.
Tangan mama meraih kami berdua diantara mama, 
"Semoga kamu bahagia ya sayang...." Namun mata mama menatap sinis kepadaku 
Aku berusaha menyembunyikan apa yang telah terjadi dari Mas Hendry, suamiku. Wajahku tetap tidak ingin menampakan bahwa aku baru saja mendapatkan peringatan yang sangat jauh berbeda saat berhadapan dengan suamiku. Mama begitu ramah dan seolah-olah turut bahagia atas pernikahan Mas Hendry denganku.

~***~

Aku beruntung mempunyai suami seperti Mas Hendry, baik, sholeh dan bertanggungjawab. Mas Hendry mempunyai pendirian yang teguh. Berkali-kali Ibu mertuaku menjodohkan Mas Hendry dengan beberapa wanita, putri teman-teman mertuaku. Namun Mas Hendry selalu menolak dan tidak menuruti kehendak mamanya dan memilih aku menjadi istrinya.
Aku memang bukan anak orang kaya atau pengusaha. Untuk dapat menjadi seorang sarjana seperti ini, aku bersusah payah mencari biaya sendiri dengan bekerja sambil kuliah. Orangtuaku tidak mampu menyekolahkan aku, namun aku bersyukur aku dapat menyelesaikan sekolah SMA ku dengan nilai baik, hingga aku sedikitnya terbantu bea siswa saat kuliah.
Aku bekerja di perusahaan Mas Hendry, Aku sekertaris almarhum ayahnya. Mas Hendry masih menyelesaikan masternya di Luar Negeri. Suatu ketika, sore itu, ayahnya Mas Hendry meninggal dunia karena terserang penyakit jantung yang sudah lama. Mas Hendry, menggantikan ayahnya di perusahaan itu.
Saat itulah aku bertemu pertama kali dengan Mas Hendry, dan setahun setelah itu, Mas Hendry menyatakan ingin menikah denganku.

Suatu hari...
"Vina...Vina..." Suara mama memanggilku...
"Ya Ma...." sahutku
Aku menghampiri mama bersama seorang ibu setengah baya bersama seorang wanita muda, cantik. Mungkin ini sahabat mama bersama putrinya yang hampir sebaya denganku. Aku tersenyum, wanita itu berbalas senyum juga.
"Vina buatkan sahabat mama ini minum yang segar ya....Silahkan duduk jeng...."Sambil mempersilahkan duduk mama memerintahkan aku seperti pembantu.
"Bu...saya permisi..." Aku pamit pada tamu mama 
Dalam rumah ini, memang tidak ada pembantu. Sejak aku menikah dengan Mas Hendry, pembantu rumah tangga mama berhentikan, hanya seorang supir dan tukang kebun. Otomatis, semua pekerjaan rumah, aku yang menyelesaikannya.
Dengan tiga gelas minuman di nampan, aku mendengar mama cerita tentang persahabatannya masa remaja dulu. Aku menghidangkan minuman itu dengan beberapa camilan.
"Jeng...menantumu cantik sekali" tamu mama memuji aku. 
Aku tersenyum, walau senyum itu tidak aku tampakan sepenuhnya.
"Cantik sich....tapi buat apa cantik kalau ternyata dia wanita mandul" jawab mertuaku. 
Hampir saja gelas terakhir yang aku simpan di meja jatuh. Aku malu sekali, ya Allah..mengapa mama benci sekali padaku, sehingga orang lain harus tahu.
Aku ingin berlari, namun kedua kakiku sulit untuk melangkah. Aku hanya diam mendengar hinaan mama.
"Ooo...mandul" Sahabat mama terheran-heran...
"Sudah hampir setahun pernikhannya ini dia tidak bisa memberi aku cucu. Apakah itu bukan mandul jeng Rita ...ya Sarah...?" mama menegaskan kembali pada sahabatnya.
Baru aku tahu kalau Ibu itu bernama Rita dan putrinya bernama Sarah
Aku pamit, kali ini aku tidak sanggup menahan air mata. Aku menangis, tiba-tiba mama berada dibelakangku.
"Kenapa...kamu sakit hati heh..."Mertuaku masih belum puas menghinaku di dekat sahabatnya.
"Memang iya kan...kamu mandul" lanjut mama sambil berlalu pergi. 
Ya Allah...beri aku kesabaran menghadapi sikap mertuaku, kembali aku hanya mampu merenungi semua ucapan mama.

~***~ 

Siang itu...
Aku ijin keluar rumah untuk mencari keperluan rumah tangga.
Aku bersama supir menuju mall yang tidak begitu jauh dari rumah, aku pikir akan lebih banyak yang bisa di beli disana, selain komplit juga nyaman buat berbelanja.

Setelah selesai belanja aku segera pulang. Terlihat ramai sekali jalanan siang itu, sampai dilampu merahpun mobil tak lagi bergerak.
"Pak ...lampunya hijau" tegurku pada supir.
Dari lampu spion depan Pak Diman (sebut saja namanya Diman) menganggukkan kepala tanda setuju. Tiba di perempatan jalan ada keramaian yang mengharuskan Pak Diman ambil jalur lain yang agak sepi menuju rumah.
Tiba-tiba....
"Lho bukankah itu Sarah...!!" pikirku.
"Pak Diman ...minggir pak..." aku membuka pintu, lalu hampiri Sarah. Sarah sedang menangis, sendirian.
"Sarah...kenapa kamu menangis...?" 
Tiba-tiba Sarah menjauh...
"Mengapa kamu ada disini?" teriak Sarah.
"Maaf Sarah...aku hanya bertanya padamu, mari naiklah ke mobil ikut aku. Aku antarkan kamu pulang" lanjutku...
"Tidak...Aku tidak mungkin pulang" teriaknya histeris. 
"Baik, mari ceritakan dalam mobil saja. Tidak baik menangis di pinggir jalan seperti ini." aku merayu Sarah agar mau ikut dengan mobilku.
Aku membimbing bahunya berusaha menenangkan tangisnya. Dan akhirnya, Sarah mau juga menaiki mobilku.
"Pak Diman, kita jalan-jalan dulu pak sebentar..."perintahku
"Baik bu...." Pak Diman langsung memutar balik arah.
Sampailah di sebuah taman. Suasana siang itu memang agak sepi. Aku dapat lebih leluasa bicara dengan Sarah tanpa menjadi perhatian orang dijalanan seperti tadi.
"Sarah....apa yang terjadi padamu?" Aku memulai pembicaraan dengan Sarah. Tampaknya sarah sudah mulai tenang.
Tiba-tiba, Ia memeluk aku. Aku memeluknya kembali, mungkin ini akan membuat Sarah tenang dan dapat menceritakan semua masalahnya padaku. 
"Vina...aku hamil..." Tangisnya meledak kembali.
"Rio ...pergi mennggalkan aku begitu saja. Lebih baik aku mati, aku sudah tidak bisa menjaga kehormatanku, aku menyesal vina...menyesal..." Dalam tangisnya Sarah menyesal.
 "Astaghfirullah....Istighfar Sarah...kamu tidak boleh bicara begitu. Kamu tidak boleh berputus asa, setiap masalah pasti ada jalan keluarnya." Kataku menenangkan Sarah.
Satu jam berlalu, Sarah sudah mulai tenang. Aku memberikan pengertian kepada Sarah agar pulang ke rumah. 
"Aku antarkan kamu pulang ke rumah kamu, Sarah " kataku. Sarah mengangguk.
Aku menghampiri pak Diman agar menuju rumah Sarah. Rumah Sarah sepi sekali, yang aku tahu dari cerita Sarah, mereka hidup hanya berdua dengan mamanya.

~***~

Sore itu...
Ada keributan dalam rumah.
Sepertinya mama sedang ribut besar dengan Suamiku Mas Hendry.
Aku hanya menguping saja, aku bingung mengapa nama Sarah di sebut-sebut mama dalam pembicaraannya dengan mama. Juga menyebut namaku dengan kata-kata "Si Mandul".
Aku baru menyadari, bahwa pembicaraan mama mengarah kepada aku yang tidak dapat memberi mama cucu setelah selama setahun pernikahanku dengan Mas Hendry.

Tiba-tiba....
"Brukkk...."
"Mama....Mama..." Suara Mas Hendry memanggil-manggil mama.
Aku berlari keluar menuju mama dan Mas Hendry.
"Astaghfirullah....kenapa mama, Mas?"kataku pada suamiku
Aku melihat Ibu mertuaku jatuh, suasana menjadi tegang.
"Vina..bantu aku angkat mama baringkan ke tempat tidur" perintah suamiku
"Iya Mas...aku akan segera panggil dr subroto"lanjutku.
Dokter Subroto adalah dokter langganan keluarga kami. Yang merawat Almarhum Papa ketika masih hidup dalam sakitnya. Hingga kini Dokter Subroto tetap menjadi dokter keluarga kami.
Tak lama kemudian dokter Subroto datang, langsung memeriksa mama.
"Gimana keadaan mama, dok?"Mas Hendry tampak sangat kuatir keadaan mama.
"Ibu Rahma tidak apa-apa, hanya kelelahan saja. Apabila Ibu Rahma sudah bangun nanti, agar di berikan obat ini..." Pesan dokter Subroto. 
"Baik dok..." 
 "Saya permisi pulang, jangan kuatir Ibu Rahma pasti segera kembali pulih. Permisi...."Dokter Subroto pamit pulang. 
 Malam ini, suasana agak sedikit berbeda. Mataku tak dapat terpejam. Kata-kata mama terngiang-ngiang di telingaku. 
"Ya Allah....apa yang harus aku lakukan. Jika keinginan mama sampai terjadi, agar Mas Hendry menikah dengan Sarah" Bathinku.
Tak terasa mataku terpejam dalam doa. Aku akhirnya dapat tidur, walau gelisah.

~***~

Singkat cerita, dengan segala pertimbanganku. Agar Ibu Mertuaku sembuh dari sakitnya, aku mengusulkan kepada suamiku agar menikahi Sarah sesuai dengan keinginan mama.
"Itu tidak mungkin....aku sangat mencintaimu Vina. Apapun juga keadaannya, aku tidak akan bebagi kasih sayang dengan siapapun" Bantah suamiku.
Aku coba memberi pengertian, demi mama. Aku juga kasihan dengan Sarah yang sedang mengandung anaknya tanpa ayah. Dengan keadaanku yang entah kapan memberikan cucu buat mama. Aku yakinkan, bahwa anak Sarah bisa di adopsi menjadi anak kami berdua kelak.
Dengan segala pertimbangan, Aku dan Mas Hendry mendatangi keluarga Sarah. Mas Hendry dihadapanku menyatakan ingin menikahi Sarah untuk kebaikan semua, terutama mama juga bayi dalam kandungan Sarah. Mama Sarah, tak mampu berkata-kata lagi ketika mendengar ungkapan Mas Hendry.
Akhirnya, Sarah menikah dengan Mas Hendry dan tinggal bersama kami dalam satu rumah.

Saat melahirkan, Sarah terserah sejenis syndrom sehingga mengalami pendarahan hebat, dan akhirnya meninggal dunia. Sebelum meninggal, sarah menitipkan putranya padaku dan Mas Hendry. Aku dan Mas Hendry mempunyai kewajiban membesarkan dan mendidik Faujan (nama putra Sarah) hingga besar. Mama akhirnya dapat menerima semua keadaan ini.

Terima Kasih ya Rabb...
Yang telah mengabulkan doa-doaku selama ini.
Yang telah memberikan ketabahan serta kesabaran menghadapi cobaan demi cobaan.
Aamiin ya Rabbal'alamiin....






2 komentar:

Kang Ucup mengatakan...

Kisah yang sangat menarik Bu'.... :)
Selama masih hidup, manusia tidak bisa luput dari cobaan ya Bu'.... :)

Agent Of Gold mengatakan...

Iya Kang....bukan hidup jika tidak ada cobaan. Cobaan membuat kita akan semakin dekat dengan Allah.....Aamiin. Syukron atas kunjungan dan koment nya Kang Ucup....barokallahufiikum.

Posting Komentar

◄ Posting Baru Posting Lama ►
 

INFO SITE

Flag Counter PageRank for benkelakhlak.blogspot.com SEO Reports for benkelakhlak.blogspot.com Submit Your Site To The Web's Top 50 Search Engines for Free! Sonic Run: Internet Search Engine casino.us.org My Ping in TotalPing.com

Valid CSS!

SEO Stats powered by MyPagerank.Net Yahoo bot last visit powered by MyPagerank.Net Msn bot last visit powered by MyPagerank.Net Personal Blogs - Blog Rankings
DMCA.com

counter

Pengikut

Komentar Sahabat

Recent Comments Widget with Avatar by Tutorial Blogspot

Copyright © 2012. "Benkel Akhlak" - All Rights Reserved B-Seo Versi 5 by Blog Bamz