Akibat Buruk Maksiat (1)
Sesungguhnya dosa dan maksiat memberikan dampak yang amat
buruk dalam kehidupan hamba, ibnu Qayyim Al Jauziyah menyebutkan dampak-dampak
buruk tersebut dalam kitab beliau Ad Daa wad Dawaa, beliau berkata: “Maksiat
mempunyai pengaruh yang amat buruk, berbahaya untuk hati dan badan di dunia dan
akhirat. Diantara pengaruh buruk maksiat adalah:
1. Terhalang dari ilmu (yang bermanfaat).
Karena ilmu adalah cahaya yang Allah berikan kepada hati,
dan maksiat memadamkan cahaya tersebut. Ketika imam Asy Syafii duduk bersimpuh
di hadapan imam Malik membacakan (kitab muwatha’), imam Malik merasa kagum
kepada kecerdasan, ketajaman otak dan pemahamannya, imam Malik berkata:
“Sesungguhnya aku melihat Allah telah memberikan cahaya kepada hatimu, maka
janganlah kamu padamkan dengan kegelapan maksiat”.
2. Kegersangan hati dan kesenjangannya antara dia dan Allah
Ta’ala.
Maksiat menjadikan hamba jauh dari Allah, sehingga ia lupa
kepada Allah akibatnya hatinyapun menjadi gersang dan hilang kelezatan
berdzikir dan mentaati Allah.
3. Terhalang dari ketaatan.
Dosa menjadikan hati manusia gelap dan membuat berat
ketaatan, sehingga menutup pintu-pintu kebaikan, iapun terluput dari ketaatan
yang banyak padahal setiap ketaatan itu lebih baik baginya dari dunia dan
seisinya.
4. Maksiat menumbuhkan benih-benih maksiat lain.
Sehingga ia beranak pinak dan menjadikan pelakunya sulit
untuk meninggalkannya. Sebagian ulama salaf berkata: “Sanksi maksiat adalah
memunculkan maksiat lainnya, sebagaimana kebaikan itu memunculkan kebaikan
lainnya”.
5. Maksiat menjadikan hati tidak lagi menganggapnya buruk.
Sehingga menjadi kebiasaannya, dan bahkan mencabut rasa malu
ketika manusia melihatnya berbuat maksiat, dan yang lebih mengerikan lagi
pelakunya merasa bangga ketika dapat berbuat dosa. Dan orang seperti ini
termasuk jenis yang tidak dimaafkan dan biasanya akan dihalangi dari bertaubat,
sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam:
كُلُّ أُمَّتِي مُعَافًى إِلَّا الْمُجَاهِرِينَ
“Semua umatku dimaafkan kecuali orang yang berbuat maksiat
terang-terangan”. (HR Bukhari dan Muslim).
6. Maksiat menghilangkan pengagungan Allah di hati
pelakunya.
Al Hasan Al Bashri berkata: “Mereka meremehkan Allah
sehingga berani berbuat maksiat kepadaNya, kalaulah Allah itu agung di hati
mereka tentu mereka akan meninggalkan maksiat. Dan apabila hamba telah
meremehkan Allah, maka ia tidak akan dihormati oleh siapapun, sebagaimana
firman Allah Ta’ala:
وَمَنْ
يُهِنِ اللَّهُ فَمَا لَهُ
مِنْ مُكْرِمٍ“dan Barangsiapa yang dihinakan Allah Maka tidak seorangpun
yang memuliakannya”. (Al hajj: 18).
Walaupun ia terlihat dihormati manusia, itu hanya sebatas
karena kebutuhan mereka kepadanya atau merasa takut dari kejahatannya, namun
sebenarnya hati mereka merendahkannya.
7. Maksiat menjadikan hati menganggap remeh maksiat.
Seorang hamba yang senantiasa berbuat dosa, akan terasa
remeh dosa tersebut di hatinya, dan ini adalah tanda kebinasaan, karena bila
dosa itu telah dianggap remeh dan ringan akan semakin besar di sisi Allah. Nabi
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ
قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ
أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ
الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ
مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ “Sesungguhnya seorang mukmin melihat dosa-dosanya
seakan-akan ia duduk di bawah gunung, ia khawatir akan jatuh kepadanya. Dan
sesungguhnya orang fajir (jahat) itu melihat dosa-dosanya seperti lalat yang
lewat di depan hidungnya”. (HR Bukhari dan Muslim).
8. Makhluk selain manusia mendoakan kesialan bagi pelaku
maksiat.
Mujahid berkata: “Sesungguhnya binatang ternak melaknat
manusia yang suka berbuat dosa, ketika musim kering berkepanjangan dan hujan
tidak kunjung turun mereka berkata: “Ini akibat kesialan dosa anak Adam”.
Ikrimah berkata: “Binatang-binatang bumi sampai kalajengking
dan jangrik berkata: “Kami terhalang dari hujan akibat dosa-dosa anak Adam”.
Ternyata sanksi dosa itu tidak mencukupinya sampai ia
dilaknat oleh makhluk yang tak berdosa.
9. Maksiat mewariskan kehinaan.
Karena kemuliaan hanya dapat diraih dari jalan ketaatan
kepada Allah Ta’ala
مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ
فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا“Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, Maka bagi Allah-lah
kemuliaan itu semuanya”. (Fathir: 10).
Maka hendaklah seorang hamba mencari kemuliaan dengan
mentaati Allah, dan diantara ulama salaf terdahulu ada yang berdo’a: “Ya Allah,
muliakan aku dengan ketaatan kepadaMu, dan jangan Engkau hinakan aku dengan
memaksiatiMu”.
Al Hasan Al Bashri rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya
mereka (para pelaku maksiat itu) walaupun mengendarai bighal dan kuda, namun
kehinaan maksiat itu tidak berpisah dari hati mereka, Allah enggan kecuali
menghinakan orang yang suka bermaksiat kepadaNya”.
Abdullah bin Al Mubarak bersya’ir:
Aku melihat dosa mematikan hati
Dan langgeng di atasnya mewariskan kehinaan
Meninggalkan dosa adalah kehidupan hati
Dan menjauhinya adalah kebaikan untuk jiwamu
Yang merusak agama hanyalah para raja yang zalim
Dan para ulama serta ahli ibadah yang buruk kelakuannya
10. Maksiat dapat merusak akal.
Karena akal itu mempunyai cahaya, dan maksiat dapat
memadamkan cahaya akal, sehingga apabila cahayanya telah padam maka akalpun
akan menjadi berkurang dan lemah.
Sebagian ulama salaf berkata: “Tidak ada seorangpun yang
berbuat maksiat sampai pergi akalnya, karena kalaulah akalnya hadir tentu
akalnya akan menghalangi ia berbuat maksiat, bila akalnya tahu bahwa ia berada
di bawah kekuasaan Allah, dan Allah senantiasa mengawasinya, para malaikatpun
menyaksikannya, peringatan Al Qur’an melarangnya, dan peringatan iman juga
melarang (tentu ia akan menjauhinya).
Kebaikan dunia dan akhirat yang terluput akibat perbuatan
maksiat jauh lebih berlipat ganda dibandingkan kelezatan sesaat tatkala berbuat
maksiat, maka mungkinkah orang yang melakukan perbuatan seperti itu disebut
sebagai orang yang berakal ?!
11. Maksiat dapat mematikan hati.
Allah Ta’ala berfirman:
كَلَّا
بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ
مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ“Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu
mereka usahakan itu menutupi hati mereka”.
Al Hasan Al bashri berkata: “Ia adalah dosa di atas dosa
sehingga membutakan hati”.
Sebagian ulama salaf berkata: “Ketika dosa dan maksiat
mereka telah banyak, maka ia meliputi hati”.
Karena maksiat itu membuat hati berkarat, apabila karat itu
semakin banyak maka ia berubah menjadi raan, dan apabila semakin banyak lagi
maka ia berubah menjadi gembok dan kunci sehingga hati menjadi tertutup rapat,
apabila ini terjadi setelah pelakunya mendapat hidayah maka hatinya akan
terbalik sehingga pada waktu itu setan yang merupakan musuhnya dengan mudah
menyetir dia.
12. Maksiat memasukkan pelakunya dalam laknat Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para pelaku
maksiat, beliau melaknat wanita yang bertato dan minta ditato, melaknat wanita
yang menyambung rambutnya dan yang minta disambung.
Beliau juga melaknat pemakan riba, yang memberi makan
dengannya, penulisnya dan saksinya.
Beliau juga melaknat muhallil (orang yang ingin menghalalkan
istri yang telah ditalaq tiga oleh suaminya agar dapat dinikahi lagi oleh
suaminya), dan melaknat muhallal lahu (suami yang bersekongkol dengan muhallil
tersebut).
Beliau juga melaknat peminum arak, yang memerasnya, penjual
dan pembelinya, pemakan harganya, pembawanya dan yang dibawakan kepadanya.
Beliau juga melaknat orang yang merubah rubah batasan tanah.
Beliau juga melaknat orang yang melaknat kedua orang tuanya.
Beliau juga melaknat para homosex dari kalangan laki-laki
dan wanita.
Beliau juga melaknat orang yang menyembelih untuk selain
Allah.
Beliau juga melaknat orang yang melindungi pelaku dosa dan
ahlul bid’ah.
Beliau juga melaknat orang yang menggambar makhluk hidup.
Beliau juga melaknat orang yang menyesatkan orang buta.
Beliau juga melaknat orang yang mencap wajah binatang.
Beliau juga melaknat waanita yang sering beziarah kubur.
Beliau juga melaknat merusak hubungan seorang istri dengan
suaminya.
Beliau juga melaknat orang yang mendatangi istrinya dari
duburnya.
Beliau juga melaknat orang yang menisbatkan dirinya kepada
selain ayahnya.
Beliau juga melaknat orang yang mencaci maki para shahabat.
Allah pun melaknat pelaku maksiat, Allah melaknat orang yang
menyembunyikan apa yang Allah turunkan.
Allah melaknat orang yang menuduh zina wanita yang
baik-baik.
Allah melaknat orang yang menganggap bahwa jalan orang-orang
kafir itu lebih tertunjukki dari jalannya kaum muslimin.
Maka orang yang berbuat maksiat berarti telah rela untuk
dilaknat oleh Allah dan rasulNya dan para malaikat.
0 komentar:
Posting Komentar